Find us on Facebook

Selasa, 13 Agustus 2013

Tahun Depan, Jokowi pastikan seluruh MetroMni di jakarta sudah gunakan Bus Baru

Jakarta - Peremajaan armada Metromini tinggal menunggu waktu. Kondisi moda transportasi warga Jakarta itu dinilai sangat memprihatinkan. Bahkan di mata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi, keberadaan Metromini yang sudah tak laik jalan namun masih tetap beroperasi dianggap mencoreng wajah Jakarta sebagai Ibu Kota negara.

Karena itu, Jokowi menggulirkan gagasan untuk meremajakan dan menghapus Metromini yang sudah tak laik jalan. "Mekanisme peremajaan bisa dengan dua cara, yang pertama, Pemprov beli. Kedua, swasta juga ikut peremajaan, jadi pemilik-pemilik Metromini yang mampu dan berbentuk CV serta PT silakan beli," kata Jokowi saat ditemui detikcom, Senin (12/8).

Untuk mekanisme pertama, pemerintah DKI menargetkan bisa menambah 1.000 unit armada pada tahun ini. Jokowi menyebut bus tersebut sebagian buatan dalam negeri dan sisanya diimpor. Namun, dia masih enggan membeberkan negeri asal armada baru itu dengan alasan karena sedang dalam proses tender.

Yang jelas, Jokowi menyebutkan nantinya bus baru tersebut juga akan memakai bahan bakar gas sehingga lebih ramah lingkungan. Dari sisi kelengkapan, bus pengganti tersebut juga akan menawarkan kelebihan yang tak dimiliki Metromini. Demi kenyamanan, semua busnya juga akan menggunakan pendingan udara (AC) tanpa mengubah tarif ongkos.

Secara bertahap, Jokowi ingin mengganti semua Metromini yang beroperasi saat ini. "Ke depannya mungkin tambah lagi 2-3 ribu bus. Tahun depan mungkin bisa langsung 3.000 (bus) jadi sudah rampung tahun depan, karena yang ada sekarang ini kira-kira 4.400. Yang lama itu nanti digeser, harus keluar dan diganti," ujarnya.

Bekas Wali Kota Surakarta itu menekankan, kebanyakan Metromini sudah tak layak pakai secara fisik. Dari segi usia, bus tersebut keluaran 20 hingga 30 tahun lalu. Kondisi itu diperparah dengan sopir yang membawa bus secara ugal-ugalan sehingga membahayakan keselamatan penumpang.

Tidak adanya manajemen Metromini yang bagus juga dianggap jadi biang masalah sehingga tak pernah ada kontrol merata pada semua unit armada. Pemberian seragam dan pembinaan sopir juga sulit dilakukan. Karena itu pemerintah berencana menyatukan manajemen Metromini dan angkutan kota lainnya di bawah naungan Badan Usaha Milik Daerah PPD. Kepemilikan swasta secara perorangan tetap diperbolehkan, namun harus menginduk pada manajemen tersebut.

"Nanti ada rumah manajemen yang jelas, PPD itu, baru nanti ada pembinaan, nyetir yang baik, tata tertib lalu lintas yang baik. Kemudian ada pool, olinya dicek, remnya di cek. Selama ini enggak ada. Kalau seperti sekarang pemiliknya ribuan ngontrolnya gimana," ungkap Jokowi menguraikan.

Harapan Jokowi seiring dengan keinginan warga ibu kota. Silvi Tutuarima, 41 tahun, yang sudah lebih dari lima tahun menggunakan jasa angkutan Metromini sangat berharap rencana peremajaan Metromini bisa membawa perubahan. "Setuju aja diganti, enggak masalah kalau pun misalnya tarif ongkos naik, yang penting nyaman," kata dia kepada detikcom, Senin (12/8).

Kusni, 24 tahun, juga mengaku sangat setuju kalau Metromini diganti dengan yang lebih baik dan moderen. "Yang penting fasilitas bagus kalau diganti. Sekarang banyakan enggak enaknya," tegas dia saat ditemui detikcom, Senin (12/8).

ShareThis